Minggu, 24 Agustus 2014

Kiat-Kiat Perang Dengan Skripsi Ala Orang Aneh

kiat-kiat skripsi
Skripsi di kerjakan bukan di liat doang!!

Setiap mahasiswa pasti akan merasakan liku-liku perkuliahaan dan akhirnya (semoga) lolos dari liku-liku itu. Mahasiswa dikatakan lolos dari liku-liku perkuliahan apabila terciptanya sebuah kesimpulan dari sebuah masalah dimana masalah tersebut adalah hasil dari mencari masalah dan mencari jalan keluar dari masalah tersebut yang dijadikan sebuah buku. Mungkin bisa di persingkat dari basabasi di atas dengan nama skripsi. *semoga ngerti bahasa aneh gua

Sudah ratusan atau ribuan atau bahkan puluhan juta umat mahasiswa yang telah lolos dari liku-liku dunia persekripsian, tapi dari banyaknya umat mahasiswa yang telah lolos dari liku-liku dunia persekripsian tak jarang banyak yang terkendala olehnya, termasuk gua *ehhhmm curhat. Agar kita sebagai pasukan siap skripsi ini bisa lolos dari lika liku dunia persekripsian kita harus mempunyai kiat khusus. maka kali ini gua akan konfirmasi kalo gua aneh dan akan beri kalian kiat-kiat untuk PDKT dengan dunia persekripsian. secara gua udah mau 99% mendekati kelulusan.. Gua bisa lulus ternyata yaa allah. tisu mana tisuu, ahh mau keluar ingusnya. *sroookkkk!!!. nyedot ingus*


1. Berdoalah sebelum perang dengan skripsi.


Gua rasa kita semua bukan ateis tapi tak jarang kita menduakan dan menyelingkuhi kekuatan doa maka sebagai umat beragama yang setia dengan agama kita apa salahnya jika kita meminta bantuan dengan cara berdoa, siapa tau setelah kita berdoa tiba-tiba kalian terseret ke ruang mimpi dan kalian sudah terbangun dengan memegang skripsi dengan nama kalian terpampang di skripsi tersebut. 


Bangun woy bangun, gak mungkin banget tuuhh doa luuu!!!!


Oke jangan baca bagian di atas tadi. Janganlah kalian lupa berdoa ketika hendak berperang dengan skripsi karena selain sebagai seorang beragama yang percaya dari kekuatan doa, aktifitas berdoa menurut hasil survai yang telah gua dapat dari sebuah blog bahwa berdoa mampu menenangkan otak sehingga kerja otak lebih terbuka. Semoga infonya bener. AMIN!

Jumat, 22 Agustus 2014

Liebster Award?

Wah gua dapat penghargaan loh, namanya Liebster Award. Awal dapat sih bingung. Ini penghargaan apaan kok namanya kayak makanan tapi gak ada makanannya. Akhirnya nalar seorang yang ganteng dan tidak jomblo ini muncul. Gua ulangin lagi yaa seorang yang ganteng dan TIDAK JOMBLO, walau ldr sih. Jadi dari nalar gua itu begini, lie dalam bahasa inggris kan bohong sedangkan ster artinya bisa di plesetin star atau bingtang jadi maksutnya gua doyang bohong. Lah kok jadi gini songong banget yang ngasih penghargaan. Tapi setelah gua selidiki dengan cara kepo ke yang ngasih penghargaaan ternyata bukan kayak gitu artinya tapi inget yaaa gua TIDAK JOMBLO.. yesss gua gak jomblo akhirnyaa… *Joget ulet ulet*


Jadi Liebster Award apaan ya?
Penghargaan ini adalah sebuah penghargaan yang di dedikasikan kepada para blogger yang ganteng dan TIDAK JOMBLO, tapi sayangnya gua bohong. Wkahahahaha (gua ketawa padahal gak lucu). Oke, jadi penghargaan ini adalah emmm apaan yaa, jadi gini aja penghargaan ini adalah sebuah alat buat nyindir para blogger yang jarang update blog macan gua ini dan juga buat silaturahmi untuk sesama blogger atau bisa buat kepo ke blogger lain dan kali aja bisa dapat pacar.
Ternyata award ini ada aturannya juga coooyy, jadi aturannya seperti ini:
1. Bikin postingan tentang award ini
2. Ngucapin terima kasih sama yang udah kasih award, jangan lupa sertakan link blognya.
3. Ceritain 11 hal tentang diri sendiri
4. Jawab 11 pertanyaan yang ngasih award ini
5.Pilih 11 blogger lainnya buat dapet award ini juga
6.Kasih 11 pertanyaan ke blogger yang dipilih

Yaudah dari pada kelamaan kita mulai aja. Tapi ingen gua TIDAK JOMBLO.. *di tampar pakek duit*
1. Gak pernah pacaran, sekalinya punya pacar LDR, tapi semoga langgeng dan bisa sampe ke jenjang selanjutnya dan selanjutnya dan selanjutnya sampe bahagia. Amin
2. lebih suka di puji aneh
3. punya kalainan kulit yang aneh namanya Dermatograpia
4. suka jalan jalan

Minggu, 10 Agustus 2014

Teruntuk Calon Istriku Kelak

Wahai calon istriku kelak.
Sudah siapa engkau manjadi ibu untuk anak-anak kita kelak?
Menjadi bagian dari keluargaku tidaklah mudah di negeri ini.
Negeri yg masih memilih kaum minoritas sebagai acuan.
Negeri yg masih cemooh melihat keberadaan minoritas.
Negeri yg masih menganggap minoritas bukan bagian dari bangsa ini.
Atau bisa dikatakan negeri yg masih berdiskriminasi.

Wahai calon istriku kelak.
Sudahkah engkau yakin denganku.
Dengan orang yg memiliki bagian dari kaum minoritas.
Sudah siapkah engkau jika kelak anak anak kita mendapat terpaan kaum kaum mayoritas.
Liatlah media masa akhir-akhir ini tentang calon presiden kita.
Banyak orang bermanufer membohongin rakyat dengan cara menebar fitnah bahwa salah satu dari calon presiden kita bagian dari minoritas.
Lihatlah...!! Hal itu menjadi masalah.
Lihatlah juga banyak orang tak iklas jika terpilihnya calon presiden tersebut maka jabatan lama beliau digantikan oleh golongan minoritas.
Itu masih secuil contoh kecil..!!
Apa separuh dari bagianku sampah menurut kaum mayoritas di negeri ini?
Apakah kita tak layak menjadi penentu arah bangsa ini?
Atau setidaknya apa bangsa ini siap menerima kami setara dengan mereka.

Wahai calon istriku kelak.
Sudah siapkah enggkau jika kelak anak kita terganjal pelacunya sebagai bagian bangsa ini karena separuh dari golonganku?
Wahai calon istriku kelak.
Mungkin bangsa ini belum siap di pimpin dari golonganku.
Mungkin bangsa ini masih lebih memilih ikhlas di pimpin oleh seseorang yang hadir dari mayoritas meskipun mereka bajingan daripada dipimpin oleh kita yang benar-benar ingin merubah nasip bangsa ini.
Mungkin bangsa ini lebih legowo jika harta kekayaan mereka di rampas oleh kaumnya demi kepentingan pribadi daripada di manfaatkan oleh kaum kita untuk kesejahteraan bersama.
Mungkin menjadi pemimpin bangsa ini sangat berat bagi anak-anak kita kelak.
Sudah siapkah wahai calon istriku.

Wahai calon istriku kelak.
Jika aku bisa memilih aku ingin dilahirkan di negeri ini sebagai kaum mayoritas agar tidak ada diskriminatif terhadap anak-anak kita kelak.
Jika aku terlahir sebagai kaum mayoritas mungkin aku tak perlu mempermasalahkan keyakinanmu untuk memilihku.
Tapi apa daya, kita tak bisa memilih untuk lahir dari golongan apa.


Wahai istriku kelak, sudahkah engkau yakin dengan semua ini.