Siang, 25 juli
2016.
Gak ada hal yang
istimewa di kantor, seperti hari-hari biasa gue duduk dengan posisi
kerja walau gue gak tahu gue kerja apa pura-pura kerja, bisa jadi
selama ini gue dikerjain. Haha. Dengan posisi duduk mata gue tertuju
pada layar laptop, sambil tiba-tiba gue ngecek HP daaaaan, ya, gak ada balasan dari DIA. Seperti biasa kalo gue lagi bosen gue lihat-lihat HP gue mulai dari Path, Instagram dan akhirnya gue buka Line. Saat gue
liat Line tiba-tiba mata gue tertuju pada berita yang ada di Line.
“Wanita Asal
Malang Akan Pidato di Konvensi Demokrasi AS”
What? Wanita asal
malang? Dengan cepet-cepet langsung gue lihat berita tersebut.
“Ima Matul
Maisaroh” siapa itu? Kayaknya gue gak kenal. Terus gue lanjut baca.
“Perempuan asal
Desa Gondanglegi” what?! Gondanglegi? Gue yakin kalo tempat itu gak
jauh dari tempat tinggal gue.”wah hebat juga”, itu yang ada di
benak gue, seseorang dari tempat yang bukan kota besar dan tidak jauh
dari tempat gue. Tapi didalam benak gue masih berfikir mungkin dia
sekolahnya tinggi dan rajin ikut organisasi sosial sehingga bisa
terpilih menjadi seseorang yang akan berpidato di konvensi demokrasi
AS atau bisa dikatakan orang yang cerdas dan didukung dengan
pendidikan tingginya.
Ternyata prediksi
gue salah, dia adalah seseorang wanita berusia 33 tahun tidak tamat
SMA karena dipaksa menikah oleh orangtuanya meski berakhir dengan percerai dan
akhirnya memilih bekerja menjadi pramuwisma di luar negeri agar bisa
pergi jauh-jauh dari kampung. Tak begitu banyak yang dijelaskan oleh media masa tersebut, akhirnya karena kekepoan tersebut, gue tuliskan
nama lengkap dia di google dan muncul lah beberapa informasi mengenai
siapa orang tersebut, bagaimana cerita dia sehingga bisa berpidato di
acara tersebut.
Kalo gue ceritain
menurut apa yang gue tangkap dari informasi yang gue dapat, tidak
mudah untuk mencapai posisi bisa berpidato di ajang tersebut, karena tidak ada yang mengira bahwa seorang Ima bisa menjadi TKI di Amerika padahal dia mengajukan untuk menjadi TKI di Honkong dan semauanya belum selesai karena kesusaha-kesusahan tak ujung berhenti,
dia di sana dihadapkan dengan mendapatkan majikan yang menyiksa dia
dan tidak memberinya gaji, yang jelas perjalanan dia sampai fase saat
ini tidak mudah, setelah dia melapokan kasus ini dan sampai titik
dimana dia bisa bekerja menjadi staff di organisasi nirlaba atau ono profit yang menangani masalah human trafficking dan akhirnya dia
bisa berpidao dalam konvensi Demokrasi AS. Itu adalah hal yang sangat luar biasa bagi seseorang yang tidak tamat SMA.
Dari
situlah berfikir jalan hidup orang tidak ada yang ngerti. We don’t
know what's happen in the future. Siapa kita
sekarang gak ada yang ngerti seperti apa kita kedepan, gak ada yang
tau jadi apa kita nanti, Disaat seperti apapun posisi kita sekarang,
Sekejam apa posisi kita sekarang dan sehancur apapun posisi kita
don't giveup karena kita tidak akan tahu kedepan masadepan
kita menjadi apa. Kita boleh merasa frustasi dan hancur tetapi kita
harus bangun, terus berusaha dan nekat, ya, kita harus nekat karena
kita tidak tau dikenekatan keberapa semua itu berhasil.
Jangan
pernah minder dengan posisi kita sekarang, tetapi tetaplah berusaha
dan terus berusaha karena rendang yang sangat nikmat tidak hadir dari
dapur yang megah dan berfasilitas yang paling lengkap, tetapi bisa
terlahir dari dapur sederhana atau hanya dapur reot yang
memprihatinkan dan kita juga tidak pernah tau rendang yang
benar-benar lezat tersebut hadir dari ujicoba resep yang keberapa.
JANGAN
PERNAH MENYERAH DIMANA PUN POSISI KITA SEKARANG, KARENA KESUKSESAN
TIDAK PERNAH MELIHAT POSISI KITA TETAPI MELIHAT USAHA KITA. -Angga
Ong.
*tulisan
ini adalah tulisan gue yang berguna untuk memotivasi diri gue agar
gue selalu semangat dan terus berusaha tak peduli di posisi seperti
apa gue sekarang, keep trying and trying until dead becaouse we don't know where we will success.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar