Pagi menunjukkan
pukul 7.30. terbangun dari pagi yang begitu telat. terbangun di tempat yang
asing. terlihat suatu ruangan yeng penuh dengan poto berbingkai dengan terdapat
satu orang yang tidak asing lagi, berlatarkan banyak tempat. Di atas gunung. Di
pantai. Di dalam air. Di goa. di suatu kota yang penuh dengan gedung pencakar
langit, di suatu desa terpencil dengan orang yang masih bertalanjang dada
dengan latarbelakang bangunan kerucut dan aku tahu persis dimana itu, surganya
Indonesia, Papua. di suatu tempat berantakan, bekas bangunan yang hancur karena
perang dengan pose memegang senjata bersama beberapa orang memakai sergam
kecoklatan usang dan masih banyak lagi foto yang terpajang di ruanga itu. semua
foto tertata rapi lengkap dengan tanggal kapan foto itu di ambil. Aku
beranjak dari tempat tidur dan membuka jendela kamar, melihat beberapa orang
sudah mulai sibuk dengan aktivitasnya. terlihat pantai dengan sinar matahari
yang tepat berada di garis antara laut. telihat pancaran yang sengat
mengagumkan. tanpa berfikir panjang kuambil kamera Canon 1000D ku dari dalam
backpack. aku geser dari tanda off ke on, aku putar ke modus M, 1/250 sec,
f/3,5, 28mm, auto ISO. aku arahkan kamera ke arah laut yang kebiru-biruan
karena percikan sinar dari matahari yang tepat diatas garis lautan. aku putar
ke kanan dan kiri fokus yang ada di lensa untuk menemuka fokus yang pas. tangan
kanan sudah siap untuk menekan tombol suter. terdengar bunyi "cklak"
tanda bahawa tombol suter telah tertekan. tanpa ragu langsung aku tekan tombal
bagian kanan bawah di samping layar LCD kamera dan muncul lah hasil dari
jepretan tadi. terlihat rona kejingga-jinggaan bayangan sinar terpancar jelas
diatas permukaan lengkap dengan awan yang berwarna keungu-ungun berada tepat
diatas matahari kuning memerah seakan memberi senyuman.
Senyuman matahari
mengingatkan perjuangan hingga sampai ke tempat ini. aku duduk didepan bangunan
tua. berseliweran orang-orang tanpa tahu areh mereka. berlari menuju stasiun
bawah tanah. berdiri di sebuah halte dengan sibuk memaikkan jemarinya kesebuah
telpon genggam. dua pasang insan yang sedang jatuh cinta yaitu pria berambut
ikal agak genut dan perempuan berambut seleher bertatapan di sebuah restoran di
temani lilin.
terdengan suara tikus-tikus berlarian di bawah
selokan mengais sisa-sisa makanan. terdengan pula koin yang dilempar diwadah didepanku.
dengan hanya mengagguk aku terus memainkan harmoni, meniup dengan penuh
semangat, meniupkan semakin cepat untuk menghilangkan rasa dingin yang hadir
pada malam itu. dengan hanya sehelai baju dan celane pendek bersepatu ditemani
dengan backpack lengkap dengan semua berkakas yang selalu menemaiku. jam tangan
Casio yang selalu terpakai ditangan kanan. headphone Sony Ericsson W200i
bergantungkan karet gelang terselip di saku celana. semua itu melengkapi semua
perjalanan ini.
Aku hentikan
bermain harmoni, koin dengan nominal lumayan besar jika dinominalkan dengan
rupiah sudah terkumpul, aku tekan tombol light yang ada di jam tanganku
terlihat warna biru dan angka 23:10. aku tekan lagi comp pada jam tangan itu
menunjukan arah utara tepat di depan dan suhu udara tertulis 15 derajat
selsius. aku berdiri mengambil koin-koin yang sudah aku kumpulkan selama dua
jam. aku masukan ke saku koin itu dan wadah itu aku masukan ke backpack, aku
keluarkan kamera, aku foto semua yang ada disekitar. dingin udara malam bukan
penghambat untuk melanjutkan petualangan. aku pakai backpackku dan kamera yang
tergantung dileher. berjalan menelusuri jalannan yang ramai banyak penjual
makana di sepanjang jalan. bau khas makanan membuat perut tidak bersahabat.
terdengar bunyi perut tanda kelaparan telah melanda. tanpa basabasi aku berheti
di sebuah gerobak penjual roti. ada bermacam-macam roti. aku rogoh beberapa
kion yang aku dapat tadi dan aku sodorkan kepenjual roti dan tangan kiriku
menunjuk salah satu roti yang paling besar. dengan mengangguk tanda bahwa orang
tersebut mengerti maksut dari bahasa tubuhku. orang tersebut mengambil
beberapa koin yang aku sodorkan dan aku ambil roti tersebut. dengan ciri khas
orang Indonesia aku membungkuknan pundak dengan senyuman dan langsung pergi
menuju setasiun kereta bawah tanah. sambil mulutku mengunya roti tersebut aku
terus berjalan menelusiri jalanan yang ramai dengan orang-orang yang berjalan,
berjalan dengan berbicara dengan telepon genggamnya, berjalan dengan mengunakan
earphone dengan laju jalan yang cepat. semua moment itu telah aku abadikan
dalam kameraku.
Tibalah di setasiun
kereta bawah tanah membuat hati terasa bergatar melihat seni arsiterkutr yang
ada. bak trowongan yang besar dihiasi lukisan dan corak ukiran yang benar-benar
pertama kali melihatnya. keindahan ini tak mungkin terlewatkan. setiap moment
tersebut aku photo. setiap bentuk tekstur bangunan akan aku abadikan untuk aku
tunjukkan kepada adikku. seorang arsitektur. aku menelusuri lorang dari
setasiun itu aku menuju ke loket dan mengambil sebuat kertas yang ada si saku
kiri belakang celanaku, aku tunjukan tulisan yang ada di kertas itu kepada
penjaka loket kereta. sebenarnya disitu ada mesin yang sudah canggih para
memilik kartu kereta tinggal memasukan kartu mereka kedalam sebuah mesin,
menekan tombol tujuan mereka dan pintu cermin setinggi bahu akan terbuka dan
mereka dapat mengambil kartu tersebut setelah mereka masuk. dalam benakku kapan
negaraku bisa mengikuti hal-hal semacam ini .tidak ada lagi antrian orang di
loket tiket. tidak ada lagi orang yang gaduh dan mendahului antrian. setelah
aku sodorkan kertas itu untuk dibaca petugas tiket memberi tahu harga tiket
tersebut dan aku keluarkan beberapa uang koin tersebut untuk membayar tiketnya.
Setelah masuk
kedalam setasiun, udara mulai berganti hangat. tanda jalur kereta tertera di
tiket. angka 4 berada disitu. aku mencari-cari dimana arah untuk sampai
dijalur kerta api dengan angka 4. terdapat jam besar didalam sana. jarum pendek
mengarah pada angka 11 dan jarum panjang berada pada posisi 7. aku
melihat ada beberapa lorang mirip lorong-lorong yang ada disebuah bioskop
yang pernah aku kunjungi dengan adikku dengan uang yang diberikan oleh kakakku
untuk menonton sebagai tanda kasihsayangnya untuk melihat filem yang keren
yaiut 5cm. ingatan itu masih tetap terbayang. dalam setasiun aku masuk pada
sebuah lorong yang bertuliskan angka 4. aku ikuti saja arah itu sampai akhirnya
aku berasa di sebuah tempat tunggu. beberapa saat kemudian kereta datang dan
beberapa orang masuk kesana dan aku pun langsung masuk kedalam. dalam benakku
berfikir, seberapa cerdas orang yang membuat bangunan ini, bukan hanya
keindahan yang di tunjukan tapi sistem dari tata letak benar-benar di
perhitungkan. aku tinggal masuk kesebebuah lorong tanpa kuatir tersesat. semua
itu benar-benar tertata rapi. semoga semua ini mampu ditiru bangsaku.
ditirunya, bukan hanya memancarkan surga-surga yang indah, bukan hanya
memancarkan keindahan negeri diatas awan, bukan hanya keindahan ombak yang
membuat banyak orang terkesima, tapi memancarkan seluruh kesatuan antara
keindahan dan kegunaan.
Sekitar 15 menit
didalam kereta dan munkin kereta sudah berhenti sekitar 3 pemberhentian setiap
kali akan berhenti ada suara bahwa akan berhenti di setasiun itu dan lampu yang
ada didalam kereta yang merupakan urutan dari jalur pemberhentian itu
berpindah. tertera tujuan pemberhentian yang ada ditiket keretaku berada di
urutan 6. dengan kenyamana kereta tersebut yang aku rasa sangat beda jauh
kenyamana yang aku dapat ketika aku menggunaka kereta listrik Pakuan Jakarta
Bogor beberapa tahun silam dengan Papaku. kereta itu aku rasa sudah sangat
nyaman ternyata semua itu salah. ternyata masih ada kereta yang lebih nyaman.
tidak ada suara khas kerta yang keluar karena gesekan sambungan besi yang ada
di rel jalur kerta. tidak ada getaran yang keluar. benar-benar nenakjubkan.
Beberapa saat
kemudian akhirnya tiba. beberapa orang turun dari kereta begitu juga aku.
karena rasa kantuk yang dalam, segeralah aku keluarkan peta dari backpackku.
sambil mengeluarkan peta aku terus berjalan ke pintu keluar. di peta itu sudah
terdapat alamat tempat teman lamaku yang akan aku tuju. beberapa orang mulai
pergi menuju pintu keluar. pada saat keluar aku pun tak tahu harus melangkah
kemana karena tidak tau arah untuk membaca peta. aku melihat jamku dan teringat
bahwa jam Casio yang di berikan kakakku atas pemberian kawannya yang pada saat
itu dibelinya di negara sakura, Jepang. tanpa pikir panjang aku tekan Comp pada
jam. arah utara tepat berada di kanan ku. aku arahkan peta itu dan dengan ilmu
yang tebatas tantang membaca peta akupun mulai memahami dimana arah tempat yang
akan kutuju. jalanan yang aku lewati sudah mulai sepi, berbeda dengan tempat
setasiun awal tadi. disini suara gemuru ombak begitu terasa. hanya suara ombak
yang ada. sekitar 2 km jarak antara stasiun dan rumah yang akan dituju. persis
apa yang di ceritakannya kepadaku. tepat didepan pintu rumahnya, persis dengan
foto yang diberikan, aku ketuk pintu rumahnya dengan rasa kantuk yang
mengebu-gebu.
Pintu terbuka,
terlihat sosok wanita cantik berpotongan rambut seleher. dengan postur tubuh
setinggi 160cm. berpawaan atlit karena hobinya yang suka bereneng. masih sama
wajahnya ketika dia mengunjungi Indonesia beberapa tahun lalu. dengan senyum
yang khas dia langsung menyuruhku masuk. karena rasa kantuk yang sudah tidak
tertahan, akupun langsung bilang kedia bahwa aku butuh tidur. dengan cekatan
dia langsung mengantar kesebuah ruangan. ruangan dengan pintu penuh kata-kata.
penuh beberapa pernyataan tentang apa yang dilihatnya diberbagai negara.
disitu aku melihat tulisan "I Love Indonesia, State Million Colors".
tanpa banyak bertanya akupun menaruh seluruh bawaanku. akupun tidur.
(*-*)
Beberasa saat
setelah mengamati hasil jepretan tadi akupun keluar kepintu kamar. sebelum aku
keluar, aku melihat sebuah lemari dengan banyak gantungan kunci, tertuliskan
negara, atau bahkan nama dari daerah yang pernah dikunjungi temanku ini.
tulisan Bali, Lombok, Jogja, Aceh, Raja Ampat, dan Malang sebagai tempatku
tinggal pun tak luput dari pandanganku. masih banyak gantungan kunci tentang
nama-nana daerah di Indonesia. hampir penuh lemari tersebut berisi gantungan
kunci. aku buka pintu dan aku melihat sebuat teras yang teduh, terdapat tempat
duduk untuk menikmati pemandangan yang indah. disebelah barat yang dilihat dari
cendela tadi ternyata hanya sebagian kecil dari keindahan. tepat berada diutara
dimana pintu itu manghadap terdapat sebuah gunung yang sangat indah. terlihat
awan yang menutupi beberapa puncak gunung tersebut. dengan kamera yang masih
dipopong ditangan tak luput semua keindahan ini untuk dipotret. dengan posisi
rumah yang berada diatas sehingga takluput bisa melihat keseluruh arah. ada
beberapa orang yang sedang naik sepeda dengan papan surfing. dari semua
keindahan ini mengingatkan pada mimpi yang sudah beberapa kali hadir, semua
lokasi persis, gunung menjualang tinggi, pantai yang serasi dengan pancaran
sinar matahari yang terbit, semua ini sama. persis pada mimpi-mimpi itu. inilah
tempat yang selama ini menjadi bayangan pada mimipi-mimpi. keindahan yang
menjadi nyata. perjuangan yang tidak sia-sia. berpuluh-puluh tahun menjaga
mimpi-mimpi ini. kerja keras terbayar sudah.
Kreeek. suara pintu
terbuka, terlihat Dova Araminta. dialah gadis yang memiliki tempat ini. dialah
teman sekaligus sahabatku. dengan membawa segelas minuman dan sepiring makanan
diapun menyapaku dengan panggilan akrab. "Ong, gimana petualangannya.
sudah merasakan arti perjalanan?". tanpa perlu manjawabnya akupun hanya
terseyum. dia pun sudah mengerti arti dari senyumku ini. kita
berbincang-bincang, saling bertanya jawab, saling mengeluarkan ungakapan
kangen. karena itulah yang sering kita lakukan. karena itulah tradisi kita.
Dova Araminta adalah temanku yang kenal melaui skype. beberapa tahun silam. ketika
itu aku masih menjadi mahasiswa disebuah perguruan tinggi negeri dikota Malang.
waktu itu pun dia juga masih menjadi seorang mahasiswa. perkenalan ini bermula
ketika sepulang kuliah aku meliaht skypeku ada permintaaan baru. dengan nama
Dova Araminta. tanpa ragu aku terima pertemanan itu. bercakap-cakap, salaing
bercerita manjadi bagian awal perkenalan. berkenalan dengan seseorang yang
lahir tepat dihari kasih sayang. kita hanya berbeda sekitar 4 bulan 13 hari.
aku lebih tua darinya, tapi dia benar-benar orang yang dewasa. visi dan
misinya, motivasi untuk hidupnya. semuanya sudah tergambar jelas untuk apa dia
hidup, untuk apa dia melalang buana kebanyak negara, untuk apa dia memiliki
jiwa sebagai Backpaker. itulah jiwanya. dengan misi yang sama sebagai backpaker
itulah keakrapan kita muncul menjadi suatu patner, menjadi travelmate, menjadi
pemandunya saat melihat keindahan Indonesia.
Suasana mengobrlo
sedang berlanjut, tiba-tiba kepalaku terasa pening. mata menjadi gelap.
terdengar sesorang memanggil-manggil namaku. suara itu semakin keras. ditambah
lagi suara ketukan pintu yang begitu keras. alam bawah sadarku mula
menari-nari, meletakkan jari tangan ke kepala. tiba-tiba mataku terbuka. aku
berada di tempat tidurku. ternyata sesuata yang memanggil namaku adalah Papa.
dia membangunkanku. untuk melakukan aktivitas hari ini. ternyata semua ini
hanya mimpi. tempat impian ternyata hanya mimpi. Dova Araminta ternyata hanya bayangan.
stasiun, pejalan kaki, peselancar, gunung, pantai, ternyata semua itu hanya
bayangan. dengan mimpi yang sangat nyata ini ternyata suatu fatamorgana. kedetailan
mimpi ini serasa TERBANGUN DARI BANGUN. tetes air mata jatuh merasakan semua
kedetailan ini hanya mimpi. semuai ini bukan nyata. ingin rasanya tidak mau
bangun, ingin selalu ada pada mimpi itu. tapi ini semua mustahil, inilah hidup
yang nyata. boleh semua orang punya mimpi, boleh mempunyai mimpi yang tinggi
tapi lihatlah kenyataan tapi jangan lupakan kekuatan mimpi.
Aku pikir ceritanya romantis...
BalasHapusMenurutku agak kurang romantis kalo buat dikasih ke cewek, misalnya.
Cerita dan bahasanya permanis lagi dong..
Tapi kalo bukan buat 'seseorang,' post ini bagus bgt kok. seriously. I like it :)
sayang gua gak bisa romantis :'(
HapusGapapa lah, ternyata bisa bikin nangis juga.. :D
Hapus:'(
HapusDiksimu, keren kok. Boleh jadi novelis deskriptif dan non fiksi yang pasti. Kurangi menyambung kata pake "dengan" "yang", beraniin buat kalimat baru aja ;)
BalasHapus