Selasa, 22 Januari 2013

Terbangun dari Bangun


Pagi menunjukkan pukul 7.30. terbangun dari pagi yang begitu telat. terbangun di tempat yang asing. terlihat suatu ruangan yeng penuh dengan poto berbingkai dengan terdapat satu orang yang tidak asing lagi, berlatarkan banyak tempat. Di atas gunung. Di pantai. Di dalam air. Di goa. di suatu kota yang penuh dengan gedung pencakar langit, di suatu desa terpencil dengan orang yang masih bertalanjang dada dengan latarbelakang bangunan kerucut dan aku tahu persis dimana itu, surganya Indonesia, Papua. di suatu tempat berantakan, bekas bangunan yang hancur karena perang dengan pose memegang senjata bersama beberapa orang memakai sergam kecoklatan usang dan masih banyak lagi foto yang terpajang di ruanga itu. semua foto tertata rapi lengkap dengan tanggal kapan foto itu di ambil.  Aku beranjak dari tempat tidur dan membuka jendela kamar, melihat beberapa orang sudah mulai sibuk dengan aktivitasnya. terlihat pantai dengan sinar matahari yang tepat berada di garis antara laut. telihat pancaran yang sengat mengagumkan. tanpa berfikir panjang kuambil kamera Canon 1000D ku dari dalam backpack. aku geser dari tanda off ke on, aku putar ke modus M, 1/250 sec, f/3,5, 28mm, auto ISO. aku arahkan kamera ke arah laut yang kebiru-biruan karena percikan sinar dari matahari yang tepat diatas garis lautan. aku putar ke kanan dan kiri fokus yang ada di lensa untuk menemuka fokus yang pas. tangan kanan sudah siap untuk menekan tombol suter. terdengar bunyi "cklak" tanda bahawa tombol suter telah tertekan. tanpa ragu langsung aku tekan tombal bagian kanan bawah di samping layar LCD kamera dan muncul lah hasil dari jepretan tadi. terlihat rona kejingga-jinggaan bayangan sinar terpancar jelas diatas permukaan lengkap dengan awan yang berwarna keungu-ungun berada tepat diatas matahari kuning memerah seakan memberi senyuman. 

Senyuman matahari mengingatkan perjuangan hingga sampai ke tempat ini. aku duduk didepan bangunan tua. berseliweran orang-orang tanpa tahu areh mereka. berlari menuju stasiun bawah tanah. berdiri di sebuah halte dengan sibuk memaikkan jemarinya kesebuah telpon genggam. dua pasang insan yang sedang jatuh cinta yaitu pria berambut ikal agak genut dan perempuan berambut seleher bertatapan di sebuah restoran di temani lilin. terdengan suara tikus-tikus berlarian di bawah selokan mengais sisa-sisa makanan. terdengan pula koin yang dilempar diwadah didepanku. dengan hanya mengagguk aku terus memainkan harmoni, meniup dengan penuh semangat, meniupkan semakin cepat untuk menghilangkan rasa dingin yang hadir pada malam itu. dengan hanya sehelai baju dan celane pendek bersepatu ditemani dengan backpack lengkap dengan semua berkakas yang selalu menemaiku. jam tangan Casio yang selalu terpakai ditangan kanan. headphone Sony Ericsson W200i bergantungkan karet gelang terselip di saku celana. semua itu melengkapi semua perjalanan ini. 

Aku hentikan bermain harmoni, koin dengan nominal lumayan besar jika dinominalkan dengan rupiah sudah terkumpul, aku tekan tombol light yang ada di jam tanganku terlihat warna biru dan angka 23:10. aku tekan lagi comp pada jam tangan itu menunjukan arah utara tepat di depan dan suhu udara tertulis 15 derajat selsius. aku berdiri mengambil koin-koin yang sudah aku kumpulkan selama dua jam. aku masukan ke saku koin itu dan wadah itu aku masukan ke backpack, aku keluarkan kamera, aku foto semua yang ada disekitar. dingin udara malam bukan penghambat untuk melanjutkan petualangan. aku pakai backpackku dan kamera yang tergantung dileher. berjalan menelusuri jalannan yang ramai banyak penjual makana di sepanjang jalan. bau khas makanan membuat perut tidak bersahabat. terdengar bunyi perut tanda kelaparan telah melanda. tanpa basabasi aku berheti di sebuah gerobak penjual roti. ada bermacam-macam roti. aku rogoh beberapa kion yang aku dapat tadi dan aku sodorkan kepenjual roti dan tangan kiriku menunjuk salah satu roti yang paling besar. dengan mengangguk tanda bahwa orang tersebut mengerti maksut dari bahasa  tubuhku. orang tersebut mengambil beberapa koin yang aku sodorkan dan aku ambil roti tersebut. dengan ciri khas orang Indonesia aku membungkuknan pundak dengan senyuman dan langsung pergi menuju setasiun kereta bawah tanah. sambil mulutku mengunya roti tersebut aku terus berjalan menelusiri jalanan yang ramai dengan orang-orang yang berjalan, berjalan dengan berbicara dengan telepon genggamnya, berjalan dengan mengunakan earphone dengan laju jalan yang cepat. semua moment itu telah aku abadikan dalam kameraku.

Tibalah di setasiun kereta bawah tanah membuat hati terasa bergatar melihat seni arsiterkutr yang ada. bak trowongan yang besar dihiasi lukisan dan corak ukiran yang benar-benar pertama kali melihatnya. keindahan ini tak mungkin terlewatkan. setiap moment tersebut aku photo. setiap bentuk tekstur bangunan akan aku abadikan untuk aku tunjukkan kepada adikku. seorang arsitektur. aku menelusuri lorang dari setasiun itu aku menuju ke loket dan mengambil sebuat kertas yang ada si saku kiri belakang celanaku, aku tunjukan tulisan yang ada di kertas itu kepada penjaka loket kereta. sebenarnya disitu ada mesin yang sudah canggih para memilik kartu kereta tinggal memasukan kartu mereka kedalam sebuah mesin, menekan tombol tujuan mereka dan pintu cermin setinggi bahu akan terbuka dan mereka dapat mengambil kartu tersebut setelah mereka masuk. dalam benakku kapan negaraku bisa mengikuti hal-hal semacam ini .tidak ada lagi antrian orang di loket tiket. tidak ada lagi orang yang gaduh dan mendahului antrian. setelah aku sodorkan kertas itu untuk dibaca petugas tiket memberi tahu harga tiket tersebut dan aku keluarkan beberapa uang koin tersebut untuk membayar tiketnya.

Setelah masuk kedalam setasiun, udara mulai berganti hangat. tanda jalur kereta tertera di tiket. angka 4 berada disitu. aku mencari-cari dimana arah  untuk sampai dijalur kerta api dengan angka 4. terdapat jam besar didalam sana. jarum pendek mengarah pada angka 11 dan jarum panjang berada pada posisi 7. aku  melihat ada beberapa lorang mirip lorong-lorong yang ada disebuah bioskop yang pernah aku kunjungi dengan adikku dengan uang yang diberikan oleh kakakku untuk menonton sebagai tanda kasihsayangnya untuk melihat filem yang keren yaiut 5cm. ingatan itu masih tetap terbayang. dalam setasiun aku masuk pada sebuah lorong yang bertuliskan angka 4. aku ikuti saja arah itu sampai akhirnya aku berasa di sebuah tempat tunggu. beberapa saat kemudian kereta datang dan beberapa orang masuk kesana dan aku pun langsung masuk kedalam. dalam benakku berfikir, seberapa cerdas orang yang membuat bangunan ini, bukan hanya keindahan yang di tunjukan tapi sistem dari tata letak benar-benar di perhitungkan. aku tinggal masuk kesebebuah lorong tanpa kuatir tersesat. semua itu benar-benar tertata rapi. semoga semua ini mampu ditiru bangsaku. ditirunya, bukan hanya memancarkan surga-surga yang indah, bukan hanya memancarkan keindahan negeri diatas awan, bukan hanya keindahan ombak yang membuat banyak orang terkesima, tapi memancarkan seluruh kesatuan antara keindahan dan kegunaan. 

Sekitar 15 menit didalam kereta dan munkin kereta sudah berhenti sekitar 3 pemberhentian setiap kali akan berhenti ada suara bahwa akan berhenti di setasiun itu dan lampu yang ada didalam kereta yang merupakan urutan dari jalur pemberhentian itu berpindah. tertera tujuan pemberhentian yang ada ditiket keretaku berada di urutan 6. dengan kenyamana kereta tersebut yang aku rasa sangat beda jauh kenyamana yang aku dapat ketika aku menggunaka kereta listrik Pakuan Jakarta Bogor beberapa tahun silam dengan Papaku. kereta itu aku rasa sudah sangat nyaman ternyata semua itu salah. ternyata masih ada kereta yang lebih nyaman. tidak ada suara khas kerta yang keluar karena gesekan sambungan besi yang ada di rel jalur kerta. tidak ada getaran yang keluar. benar-benar nenakjubkan.  

Beberapa saat kemudian akhirnya tiba. beberapa orang turun dari kereta begitu juga aku. karena rasa kantuk yang dalam, segeralah aku keluarkan peta dari backpackku. sambil mengeluarkan peta aku terus berjalan ke pintu keluar. di peta itu sudah terdapat alamat tempat teman lamaku yang akan aku tuju. beberapa orang mulai pergi menuju pintu keluar. pada saat keluar aku pun tak tahu harus melangkah kemana karena tidak tau arah untuk membaca peta. aku melihat jamku dan teringat bahwa jam Casio yang di berikan kakakku atas pemberian kawannya yang pada saat itu dibelinya di negara sakura, Jepang. tanpa pikir panjang aku tekan Comp pada jam. arah utara tepat berada di kanan ku. aku arahkan peta itu dan dengan ilmu yang tebatas tantang membaca peta akupun mulai memahami dimana arah tempat yang akan kutuju. jalanan yang aku lewati sudah mulai sepi, berbeda dengan tempat setasiun awal tadi. disini suara gemuru ombak begitu terasa. hanya suara ombak yang ada. sekitar 2 km jarak antara stasiun dan rumah yang akan dituju. persis apa yang di ceritakannya kepadaku. tepat didepan pintu rumahnya, persis dengan foto yang diberikan, aku ketuk pintu rumahnya dengan rasa kantuk yang mengebu-gebu.

Pintu terbuka, terlihat sosok wanita cantik berpotongan rambut seleher. dengan postur tubuh setinggi 160cm. berpawaan atlit karena hobinya yang suka bereneng. masih sama wajahnya ketika dia mengunjungi Indonesia beberapa tahun lalu. dengan senyum yang khas dia langsung menyuruhku masuk. karena rasa kantuk yang sudah tidak tertahan, akupun langsung bilang kedia bahwa aku butuh tidur. dengan cekatan dia langsung mengantar kesebuah ruangan. ruangan dengan pintu penuh kata-kata. penuh beberapa pernyataan tentang apa yang dilihatnya diberbagai negara. disitu aku melihat tulisan "I Love Indonesia, State Million Colors". tanpa banyak bertanya akupun menaruh seluruh bawaanku. akupun tidur.

(*-*)

Beberasa saat setelah mengamati hasil jepretan tadi akupun keluar kepintu kamar. sebelum aku keluar, aku melihat sebuah lemari dengan banyak gantungan kunci, tertuliskan negara, atau bahkan nama dari daerah yang pernah dikunjungi temanku ini. tulisan Bali, Lombok, Jogja, Aceh, Raja Ampat, dan Malang sebagai tempatku tinggal pun tak luput dari pandanganku. masih banyak gantungan kunci tentang nama-nana daerah di Indonesia. hampir penuh lemari tersebut berisi gantungan kunci. aku buka pintu dan aku melihat sebuat teras yang teduh, terdapat tempat duduk untuk menikmati pemandangan yang indah. disebelah barat yang dilihat dari cendela tadi ternyata hanya sebagian kecil dari keindahan. tepat berada diutara dimana pintu itu manghadap terdapat sebuah gunung yang sangat indah. terlihat awan yang menutupi beberapa puncak gunung tersebut. dengan kamera yang masih dipopong ditangan tak luput semua keindahan ini untuk dipotret. dengan posisi rumah yang berada diatas sehingga takluput bisa melihat keseluruh arah. ada beberapa orang yang sedang naik sepeda dengan papan surfing. dari semua keindahan ini mengingatkan pada mimpi yang sudah beberapa kali hadir, semua lokasi persis, gunung menjualang tinggi, pantai yang serasi dengan pancaran sinar matahari yang terbit, semua ini sama. persis pada mimpi-mimpi itu. inilah tempat yang selama ini menjadi bayangan pada mimipi-mimpi. keindahan yang menjadi nyata. perjuangan yang tidak sia-sia. berpuluh-puluh tahun menjaga mimpi-mimpi ini. kerja keras terbayar sudah.

Kreeek. suara pintu terbuka, terlihat Dova Araminta. dialah gadis yang memiliki tempat ini. dialah teman sekaligus sahabatku. dengan membawa segelas minuman dan sepiring makanan diapun menyapaku dengan panggilan akrab. "Ong, gimana petualangannya. sudah merasakan arti perjalanan?". tanpa perlu manjawabnya akupun hanya terseyum. dia pun sudah mengerti arti dari senyumku ini. kita berbincang-bincang, saling bertanya jawab, saling mengeluarkan ungakapan kangen. karena itulah yang sering kita lakukan. karena itulah tradisi kita. Dova Araminta adalah temanku yang kenal melaui skype. beberapa tahun silam. ketika itu aku masih menjadi mahasiswa disebuah perguruan tinggi negeri dikota Malang. waktu itu pun dia juga masih menjadi seorang mahasiswa. perkenalan ini bermula ketika sepulang kuliah aku meliaht skypeku ada permintaaan baru. dengan nama Dova Araminta. tanpa ragu aku terima pertemanan itu. bercakap-cakap, salaing bercerita manjadi bagian awal perkenalan. berkenalan dengan seseorang yang lahir tepat dihari kasih sayang. kita hanya berbeda sekitar 4 bulan 13 hari. aku lebih tua darinya, tapi dia benar-benar orang yang dewasa. visi dan misinya, motivasi untuk hidupnya. semuanya sudah tergambar jelas untuk apa dia hidup, untuk apa dia melalang buana kebanyak negara, untuk apa dia memiliki jiwa sebagai Backpaker. itulah jiwanya. dengan misi yang sama sebagai backpaker itulah keakrapan kita muncul menjadi suatu patner, menjadi travelmate, menjadi pemandunya saat melihat keindahan Indonesia.

Suasana mengobrlo sedang berlanjut, tiba-tiba kepalaku terasa pening. mata menjadi gelap. terdengar sesorang memanggil-manggil namaku. suara itu semakin keras. ditambah lagi suara ketukan pintu yang begitu keras. alam bawah sadarku mula menari-nari, meletakkan jari tangan ke kepala. tiba-tiba mataku terbuka. aku berada di tempat tidurku. ternyata sesuata yang memanggil namaku adalah Papa. dia membangunkanku. untuk melakukan aktivitas hari ini. ternyata semua ini hanya mimpi. tempat impian ternyata hanya mimpi. Dova Araminta ternyata hanya bayangan. stasiun, pejalan kaki, peselancar, gunung, pantai, ternyata semua itu hanya bayangan. dengan mimpi yang sangat nyata ini ternyata suatu fatamorgana. kedetailan mimpi ini serasa TERBANGUN DARI BANGUN. tetes air mata jatuh merasakan semua kedetailan ini hanya mimpi. semuai ini bukan nyata. ingin rasanya tidak mau bangun, ingin selalu ada pada mimpi itu. tapi ini semua mustahil, inilah hidup yang nyata. boleh semua orang punya mimpi, boleh mempunyai mimpi yang tinggi tapi lihatlah kenyataan tapi jangan lupakan kekuatan mimpi. 

5 komentar:

  1. Aku pikir ceritanya romantis...
    Menurutku agak kurang romantis kalo buat dikasih ke cewek, misalnya.
    Cerita dan bahasanya permanis lagi dong..
    Tapi kalo bukan buat 'seseorang,' post ini bagus bgt kok. seriously. I like it :)

    BalasHapus
  2. Diksimu, keren kok. Boleh jadi novelis deskriptif dan non fiksi yang pasti. Kurangi menyambung kata pake "dengan" "yang", beraniin buat kalimat baru aja ;)

    BalasHapus